Tampilkan postingan dengan label CATATAN KAKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN KAKI. Tampilkan semua postingan

15/05/11

Antara Betlehem - Hejaz

Rahasia yang tersembunyi didalam kebenaran bagai cahaya benderang dimalam purnama yang takkan terlewatkan satu sudutpun sepanjang Betlehem - Hejaz. Sehingga jelaslah kebenaran bagi mereka yang tidak terlena, karena sesungguhnya cahaya keadilan di biaskan pada semua manusia.

Didalam sudut lain, aku melihatmu diantara orang Yerusalem. Memandangi seorang juru selamat bermahkota duri diatas bukit Golgota. Kemudian aku melihat mutiara mengkristal yang luluh diatas pipimu, setetes air mata kasih. 

"Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (luk 23:43). Dan setelah kematian Ia, terbelahlah tabir kesucian diatas langit.

31/03/11

TERSESAT PADA DIMENSI LAIN

Malam ini, malam 9 november 2008. Merasakan bulan diatas kepala mencucup ubun-ubun. Udara menjelma bagai ribuan jarum yang alit menusuki setiap lapisan kulit jaket lalu terbiakkan oleh gerimis tipis. Lampu-lampu jalan berpedar mengerucut dan mewarnai setiap langkah beratku. Asap dari sebatang rokok mengepul keluar dari bibir yang sarat dengan keletihan. Lelah………….
“Dapatkah kutukar sebaris karanganku ini untuk mendapatkan sebungkus rokok tuan?”

“Maaf Nak, ini Jakarta. Kertas putih yang hanya dilumuri cairan hitam tinta itu takkan ada yang menghargai” suara seorang dijajaran kaki lima menyedihkan setiap angan-angan tentang impianku.

“Tapi…….”

“Siapa peduli, lari saja kekerumunan orang-orang disana. Lalu kau teriakkan bait-baitnya. Dan siapa peduli. Tidak ada nak!”

            Sementara kulangkahkan kaki yang terkompas, aku hanya berfikir tentang seorang anak yang bercita-cita tinggi namun harus menangguhkannya dibawah kaki kota. Betapa dunia ini telah tercipta untuk mereka sang kapitalis. Manusia sepertiku sebaiknya masuk keranjang sampah.

“Untuk apa kamu hanya berdiri dan diam saja didepan etalase pertokoan nak, bukankah masih banyak yang bisa kau kerjakan?” Wanita dengan selendang kumel menggendong keranjang berisi kelapa segar. Lalu kutanyakan hal yang sama seperti sebelumnya. “Untuk apa nak, mampukah anak-anakku dirumah kenyang dengan secarik kertas lecek itu. Atau mampukah suamiku membeli obat atas sakitnya yang sudah sebulan ini parah?”

PERJALANAN

cerita membosankan, sebenernya catatan ini uda kadaluwarsa tanggalnya, tapi belum sempet diketik......
Dengan 44 ribu aku dah didalem kereta antar provinsi. Diantar bapak sampai stasiun Babat, kami sempat membicarakan tentang tidak tentunya jadwal kereta dan masalah keuangan. dia harap aku bawa uang setelah kepulangan dari jakarta.
Dari tanggal 19-04 tempat duduk kertajaya tidak tergantung karcis tapi siapa cepat. aku harus jongkok dipinggir pintu karena kalah cepat dengan penumpang dari pasar turi. Mungkin karena natal-taun baru.
Ternyata ada hal lain yang lebih membosankan selain kursi tukang cukur,kursi sekolah, dan kursi DPR.didalam kereta sangat membosankan dan membuatku ngantuk saya sudah lupa berapa batang rokok yang tinggal puntung. Gadis 25 tahun dengan sapu yang tangkainya sengaja dipatahkan, menyisir setiap gerbong dan tempat duduk para penumpang. Ia kumpulkan sampah koran,botol, rokok dan lainnya. Lalu ia menyodorkan bungkus permen, berharap kasih pada receh para penumpang. Senyumnya tipis, matanya sayup, tapi dia gembira.
Lalu dari arah kanan lelaki penjual minuman melangkahi orang-orang tidur seperti melangkahi selokan. Berteriak-teriak dengan logat Tegal, berpapasan dengan gadis bersapu tadi dan ia cubit punting susu gadis bersapu. Aku tau gadis bersapu marah, malu, dan ingin melempar laki-laki itu dengan gunung koran. tapi disini lebih kejam dari hutan, tak ada yang punya moral. bakan orang manis disampingku bisa jadi musuh yang

REnuNgaN JiwA

KEPADA: Mimpi yang mengisi kekosongan dan cinta yang menyibak takdir
1 tahun lalu aku adalah debu yang tertiup angin utara dan timur. kukuras samudra kehidupan, hingga terkuak semua kekeliruan. Asap-asap kretek menarikan pertanyaan yang mendesakku dengan waktu. Aku bimbang dan kebimbanganku itu berjajar dengan sikapku. Akh... Rasanya aku ingin hancur karena setiap kali terhembusnya nafas maka saat itu aku kembali jadi debu. Aku harus bagaimana???

Ketika fajar pertama kali mengelus tangisku 20 tahun yang lalu, dengan segala pepujian ibu menaruh harap pada bayi yang masih kosong oleh prahara kehidupan. Kebahagiaannya bagai seorang pendaki yang menjajakkan kaki dipuncak tertinggi dunia, bagai seorang petapa yang mendapat cahaya lentera jiwa. Digumamnya segenap doa menyucikanku dengan nama Fajar Herlambang. Lalu ibu menangis bahagia dan berkata " intan yang Tuhan titipkan padaku, jadilah engkau lambang kehidupan yang membangkitkan setiap manusia dengan mimpinya, tiupkan-lah nafas fajarmu diatas tanah-tanah yang merindukan kesejukan dan nyalakanlah sebuah lentera agar menjadi jalan para pengelana yang tersesat dalam jiwanya".

Itulah awal aku menghirup setiap nafas didalam sebuah gelas yang berisi penderitaan dan kebahagiaan lalu dengan mata kusaksikan berbagai lengkungan kehidupan serta kukelilingi matahari selama 20 tahun. Kucicipi setiap anggur yang ditanam diatas taman Eden, kuresapi nyanyian-nyanyian malam disiar kubah masjid, dan ku sembahyangi sang hiang widi di kuil-kuil petapa demi menemukan hakikat yang tersembunyi dibalik rahasia alam. Kutapaki setiap bukit-bukit yang disatukan dengan lembah, kudengarkan desir-desir ombak yang membisikkan nyanyian lautan biru dan kutengadahkan kepala menatap kebiruan langit berharap warnanya akan terserap kedalam hatiku, kemudian kuketuk rumah-rumah para penyamun agar mereka menyajikanku sepiring kenikmatan materi yang memabukkan dan menyunglap mataku menjadi buta akan Tuhan, lalu kusilahkan kakiku sejajar dengan dengan pecinta agama agar aku mampu melihat dunia dari mata batinku. Tapi sampai saat itu belum tiba, keresahan dalam hatiku tetap tak terjawab satu helaipun.

Pada usiaku 19 tahun, penderitaan dan kesedihan menamparku dengan tabirnya serta memaksaku tersadar pada lengkungan jalan yang selama ini kutelusuri. mataku sudah sangat lebam dan tak mampu lagi menumpahkan kenyataan yang terjadi, lalu yang tertinggal dari semua itu hanya seorang pemuda yang sudah tidak punya asa karena terbawa angin dan akhirnya lebur menjadi debu.
apa yang harus aku lakukan???

Tuhan tak akan pernah diam melihat manusia yang putus asa, dengan kasih ia membisikkan padaku kata-kata mistik yang harus kupecahkan dengan budi dan pengalamanku. 1 tahun pergumulanku dengan kesadaran membuatku harus menanggalkan ego dan merendahkan hatiku hingga mencium telapak kaki. aku tidak lagi melihat takdir dengan mata tapi hatiku menyibak semua takdir yang harus kubuka rahasianya. Aku tak ingin menjadi seorang yang fatalis aku harus menguak takdir dan mengubahnya menjadi lebih baik.

Sekarang, setelah 1 tahun aku berkelana dalam hatiku. Kalian akan melihat manusia baru, lihatlah aku sekarang bukan dari apa yang nampak dengan matamu tapi apa yang tersembunyi dari selubung tanah liatku. Mengertilah bukan dari apa yang kuucapkan tapi dari cinta yang kusampaikan melalui perantara hati kita. Tersenyumlah bukan dari apa yang aku lakukan tapi dari pesan yang ku sampaikan padamu.

hai teman-teman pemudaku, kuserukan pada kalian bahwa hidup ini indah. carilah keindahan itu! tapi ingat, jangan kau mencarinya ditumpukan dunia yang fana ini. tetapi sesungguhnya keindahan itu ada didalam diri kita, jauh didalam hati kita. dan di dalam hati kita itu terdapat keindahan yaitu CINTA.

Entri Populer